Tuesday, September 4, 2012

ISTERI, RAMAI-RAMAI GUGAT CERAI SUAMI

ISTERI, RAMAI-RAMAI GUGAT CERAI SUAMI
Oleh : Tabrani Yunis

 


Cerai itu halal. Artinya tidak diharamkan dan dibolehkan oleh agama. Kendatipun demikian, cerai adalah hal yang dibenci Allah. Inilah petuah sering sekali kita dengar  dalam ceramah-ceramah agama di masjid, di mushala atau pada acara-acara keagamaan dan juga pada prosesi akan nikah.  Petuah ini sebenarnya mengisyaratkan kepada kita untuk menghindari perceraian.  Sebaliknya, memberi makna untuk bisa menjaga keutuhan rumah tangga. Sebab, kalau rumah tangga runtuh yang berakhir dengan perceraian, maka akibat dari keruntuhan itu akan membawa dampak buruk bagi anak-anak. Anak-anak seringkali menjadi korban dari perceraian yang dilakukan oleh kedua orang tua.
Kendatipun banyak orang menganjurkan untuk melakukan perceraian, dalam realitas kehidupan kita, tindakan bercerai semakin tidak bisa terhindarkan. Cerai seakan menjadi cara penyelesaian yang paling pas dan ampuh. Ini terbukti dengan semakin meningkatnya angka atau jumlah pasangan yang memilih pisah ranjang atau bercerai di berbagai daerah di tanah air.  Di Jakarta, Waspada Online, edisi 31 Desember 2009 menyebutkan bahwa “ Tingkat perceraian dalam lima tahun terakhir meningkat pesat, dari 20.000 menjadi 200.000 per tahun. "Fenomena yang terjadi juga terbalik. Kalau dulu yang dominan suami menceraikan isteri, kini 75% perceraian atas inisiatif isteri yang menggugat cerai suaminya," kata Nasaruddin Umar, Dirjen Bina Masyarakat Islam Departemen Agama, Kamis (31/12).
Di Aceh juga demikian. Jumlah kasus perceraian cendrung semakin tinggi dari tahun ke tahun.  Serambi News  12 Januari 2010, memberitkan bahwa Kasus gugat cerai mendominasi perkara yang masuk ke Mahkamah Syar’iyah (MS) Aceh tahun lalu. Dari 19 kabupaten/kota se-Aceh yang masuk dalam MS Aceh, Kabupaten Aceh Tengah yang tertinggi angka gugat cerai tersebut. Panitera Mahkamah Syar’iyah Aceh, Drs Syafruddin didampingi Panitera Muda Hukum, Drs Ilyas SH kepada Serambi, Senin (11/1) menyebutkan, cerai gugat dan cerai talak mendominasi jumlah perkara perceraian di MS Aceh.
Sejak dua tahun terakhir, cerai gugat paling banyak terjadi di Aceh Tengah. Bahkan perkara yang masuk tahun lalu untuk gugat cerai sebanyak 249 perkara, dan cerai talak sebanyak 149 kasus. Setelah Aceh Tengah, kabupaten/kota lainnya yang terbanyak kasus gugat cerai tahun 2009 adalah, Bireuen, Kota Lhokseumawe, dan Kota Banda Aceh. Disebutkan juga, total kasus gugat cerai dan talak cerai yang ditangani MS Aceh, yakni tahun 2008, gugat cerai 1.603 kasus, dan cerai talak 759 kasus. Sedangkan pada tahun 2009, kasus gugat cerai 1.678 kasus tambah cerai talak 674 kasus.
Tingginya angka perceraian dan gugat cerai di Aceh ada yang memandang sebagai sebuah trend karena melihat hebohnya pemberitaan perceraian para artis dan selbritis laiinya di layar kaca. Pandangan ini, tentu tidak cukup kita jadikan sebagai bahan indikatir dan bahan analisis. Namun, melihat jumlah kasus peceraian, apalagi kasus isteri gugat cerai adalah sesuatu yang menarik untuk dicermati.  Meningkatnya kasus isteri menggugat cerai menimbulkan sejumlah pertanyaan di benak kita. Dikatakan demikian, karena selama ini, kaum perempuan malah tidak mau diceraikan, walau ia sudah babak belur akibat dari perlakuan suami yang melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga. Ketakutan perempuan lebih disebabkan oleh ketidaksiapan  secara ekonomi, social dan psycologis.
Namun, saat ini perempuan semakin berani mengajukan gugat cerai terhadap suami-suami mereka.  Mengapa mereka  semakin berani memilih  jalan bercerai?  Apakah ini sebagai dampak dari semakin tingginya kesadaran dan sensitifitas gender yang dipelajari oleh kaum perempuan?
Agaknya, keberanian kaum perempuan memggugat cerai dari suami-suami mereka, disebabkan oleh semakin tingginya pemahaman kaum perempuan akan hak-hak perempuan yang selama ini dikebiri. Kaum perempuan semakin sadar  bahwa sebagai manusia mereka memiliki kedaulatan atas tubuh mereka. Perempuan semakin sadar bahwa mereka memiliki hak yang harus mereka perjuangkan. Oleh sebab itu, mereka menyiapkan diri mereka secara psykologis, social dan ekonomi. Kesiapan ini juga yang membuat mereka semakin berani  memilih hidup berpisah dari pada hidup bersama yang tidak harmonis. Keberanian perempuan melakukan gugatan cerai kepada suami-suami mereka, menjadi pelajaran penting bagi para suami yang selama ini memiliki otoritas yang tinggi terhadap kehidupan seorang isteri. Biasanya suamilah yang menjatuhkan talak atau menceraikan isteri, karena alasan-alasan yang sangat subjektif dari laki-laki, misalnya, tidak patuh kepada suami, isteri tidak sanggup melayani suami, tidak bisa memberikan keturunan  dan lain-lain.  Di sini, posisi isteri adalah orang yang diceraikan.  Dan biasanya isteri sangat takut diceraikan.
Kini, kelitahannya para suami tidak bisa seratus persen lagi melakukan hal semacam itu. Para suami harus benar-benar menjalankan kewajiban dan tanggung jawab sebagai suami. Karena salah satu penyebab dari banyaknya gugatan cerai sang isteri terhadap suami di Aceh Tamiang serta di daerah lain adalah karena semakin banyaknya laki-laki yang tidak bertanggung jawab dalam menahkodai bahtera rumah tangga. ( WASPADA Online). Perempuan semakin sadar bahwa hidup berkeluarga bukan untuk berperang mulut, bukan untuk disakiti, bukan untuk dipoligami atau dimadu serta diterlantarkan. Karena cita-cita hidup berkeluarga sebenarnya adalah terwujudnya rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warahmah. Sayangnya, konsep berumah tangga dan berkeluarga yang Islami ini, tidak pernah difahami dan diinternalisasikan serta diwujudkan oleh pasangan suami isteri. Sebaiknya, kita harus mampu menterjemahkan secara  benar. Lalu secara sadar menjalankan kewajiban untuk membangun keutuhan rumah tangga secara benar. Dengan demikian, bahtera rumah tangga bisa selamat dari perceraian.


No comments:

Post a Comment