Saturday, June 16, 2012

9 Keunggulan Shalat Shubuh di Banding yang Lain

Ada sangat banyak keunggulan atau keutamaan shalat shubuh dibandingkan dengan shalat-shalat fardhu yang lain, bahkan shalat tathawwu’/nafilah seluruhnya. Berikut di antaranya,


Keutamaan Pertama
Allah Subhanahu wa Ta’ala membanggakan di hadapan para malaikat-Nya.
Diriwayatkan dari Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجِبَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ مِنْ رَجُلَيْنِ رَجُلٍ ثَارَ
عَنْ وِطَائِهِ وَلِحَافِهِ مِنْ بَيْنِ أَهْلِهِ وَحِبِّهِ إِلَى صَلاَتِهِ،
فَيَقُوْلُ رَبُّنَا: أَيَّا مَلاَئِكَتِي اُنْظُرُوْا إِلَى عَبْدِي ثَارَ
عَنْ فِرَاشِهِ وَوِطَائِهِ وَمِنْ بَيْنِ حِبِّهِ وَأَهْلِهِ
إِلَى صَلاَتِهِ رُغْبَةً فِيْمَا عِنْدِي وَشَفَقَةً مِمَّا عِنْدِي

“Rabb kita –‘Azza wa Jalla- takjub melihat seorang laki-laki yang bangun dari pembaringan dan kasurnya meninggalkan keluarga dan kekasihnya untuk mengerjakan sholat. Rabb kita berfirman: “Wahai para malaikat-Ku, lihatlah hamba-Ku itu, dia bangun dari pembaringan dan kasurnya meninggalkan keluarga dan kekasihnya untuk mengerjakan sholat karena mengharapkan pahala di sisi-Ku dan merindukan apa yang ada di sisi-Ku.” (Ahmad, no. 3753)

Keutamaan Kedua
Allah Ta’ala memberikan cahaya bagi orang yang keluar dari rumahnya untuk mengerjakan sholat Shubuh berjama’ah.
Diriwayatkan dari Buraidah al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بَشِّرِ الْمَشَّائِيْنَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan di kegelapan menuju masjid, (bahwa mereka akan mendapat balasan) berupa cahaya yang sempurna pada hari Kiamat kelak.” (Abu Dawud, no. 474; Ibnu Majah, no. 773; dan at-Tirmidzi, no. 207)
Yang di maksud dalam hadits ini adalah mereka yang berjalan ke masjid untuk menghadiri sholat ‘Isya dan sholat Shubuh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan: “… menuju masjid..” menunjukkan bahwa cahaya ini diberikan kepada orang-orang yang mengerjakan sholat Isya’ dan Shubuh secara berjama’ah di masjid.

Keutamaan Ketiga
Orang yang mengerjakan sholat Shubuh berjama’ah, akan ditulis baginya pahala qiyamul lail (sholat malam) semalam suntuk.
Subhanallah, betapa besarnya keutamaan ini. Bila kita bangun untuk mengerjakan sholat Shubuh dan kita tunaikan secara berjama’ah, akan dituliskan bagi kita pahala qiyamul lail (sholat malam) semalam suntuk.
Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ
وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ

“Barangsiapa mengerjakan sholat ‘Isya secara berjama’ah (di masjid), seakan-akan ia mengerjakan sholat (sunnah) separuh malam. Dan barangsiapa mengerjakan sholat shubuh secara berjama’ah, seakan-akan ia mengerjakan sholat (sunnah) semalam suntuk.” (Muslim, no. 1049).
Dalam hadits di atas disebutkan bahwa barangsiapa mengerjakan sholat Shubuh saja secara berjama’ah maka seakan-akan mengerjakan qiyamul lail semalam suntuk. Namun dalam hadits yang lain disebutkan bahwa pahala qiyamul lail diberikan bagi mereka yang sholat ‘Isya dan sholat Shubuh berjama’ah. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِيْ جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ نِصْفِ لَيْلَةٍ،
وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِيْ جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ

“Barangsiapa yang sholat ‘Isya berjama’ah maka dia seperti qiyamul lail separuh malam. Dan barangsiapa mengerjakan sholat ‘Isya dan Sholat shubuh berjama’ah maka dia seperti qiyamul lail semalam suntuk.” (Abu Dawud, no. 555 dan at-Tirmidzi, no. 22)
Hadits ini menunjukkan bahwa pahala qiyamul lail semalam suntuk hanya diberikan bagi mereka yang mengerjakan sholat Shubuh dan sholat ‘Isya secara berjama’ah.
Manakah pendapat yang paling kuat? Wallahu Ta’ala a’lam, nampaknya kami lebih memilih pendapat yang pertama, yakni berangsiapa mengerjakan sholat Shubuh berjama’ah, niscaya akan ditulis baginya pahala qiyamul lail semalam suntuk. Yang demikian itu adalah karunia yang besar dari Allah ‘Azza wa Jalla.
Hal ini diperkuat dengan penjelasan dari Ibnu Khuzaimah rahimahullah bahwa sholat Shubuh berjama’ah itu lebih baik dari sholat ‘Isya berjama’ah. Keutamaan sholat Shubuh berjama’ah itu dua kali lipat dari sholat ‘Isya berjama’ah. (Shahiih Ibni Khuzaimah, II/365).
Sungguh, karunia Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia itu sangatlah luas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan keutamaan yang sangat besar ini dengan sabdanya:

وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِيْهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Seandainya mereka (orang-orang munafik itu) mengetahui keutamaan yang ada pada keduanya (sholat ‘Isya dan sholat Shubuh berjama’ah) niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak.” (al-Bukhari, no. 644 dan Muslim, no. 651).

Keutamaan Keempat
Para malaikat berkumpul dan memberikan kesaksian atas amal kebajikan yang mereka dilakukan. Allah Ta’ala berfirman:

 أَقِمِ الصَّلاَةَ لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ
وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوْدًا (78)

“Dirikanlah sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula sholat) Shubuh. Sesungguhnya sholat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al-Isra’: 78)
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَفْضُلُ صَلاَةُ الْجَمِيْعِ (الْجَمَاعَةِ) صَلاَةَ أَحَدِكُمْ
وَحْدَهُ بِخَمْسٍ وَعِشْرِيْنَ جُزْءًا، وَتَجْتَمِعُ مَلاَئِكَةُ اللَّيْلِ
وَمَلاَئِكَةُ النَّهَارِ فِيْ صَلاَةِ الْفَجْرِ

“Sholat berjama’ah itu lebih utama 25 kali lipat dibandingkan sholat kamu sendirian. Malaikat malam dan malaikat siang berkumpul menghadiri sholat fajar (sholat Shubuh).”
Kemudian Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Silahkan kalian membaca (Firman Allah Ta’ala):

 إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوْدًا (78)

“Sesungguhnya sholat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al-Isra’: 78)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyalahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda:

يَتَعَاقَبُوْنَ فِيْكُمْ مَلاَئِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةٌ بِالنَّهَارِ
وَيَجْتَمِعُوْنَ فِيْ صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الْعَصْرِ،
ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِيْنَ بَاتُوْا فِيْكُمْ، فَيَسْأَلُهُمْ – وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ،
كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فَيَقُوْلُوْنَ:
تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ

“Para malaikat penjaga malam dan malaikat penjaga siang itu datang silih berganti. Mereka berkumpul pada waktu sholat Shubuh dan sholat ‘Ashar. Malaikat yang menjaga kalian pada waktu malam akan naik dan ditanya oleh Allah Ta’ala, – Dan Allah lebih mengetahui keadaan hamba-Nya- : “Bagaimana kalian meninggalkan hamba-hamba-Ku?” Para malaikat menjawab: “Kami meninggalkan mereka ketika mereka sedang mengerjakan sholat, dan kami datang kepada mereka ketika mereka sedang mengerjakan sholat juga.” (al-Bukhari, no. 555, dan Muslim, no. 632).
Berkumpulnya para malaikat pada waktu sholat Shubuh dan sholat ‘Ashar merupakan kelembutan dan kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Sekaligus hal ini sebagai bentuk pemuliaan yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka. Allah Ta’ala membiarkan para malaikat-Nya yang mulia untuk berkumpul bersama orang-orang yang sedang melaksanakan ibadah, dan para malaikat ini nanti akan menjadi saksi atas berbagai kebaikan yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya yang beriman.

Keutamaan Kelima
Orang yang mendatangi sholat Shubuh berjama’ah akan mendapatkan do’a dari para malaikat.
Jika seorang muslim datang ke masjid untuk menunggu datangnya sholat, maka ia akan dicatat sebagai orang yang sedang berada dalam kondisi sholat selama dia tidak berhadats dan tidak menyakiti orang lain. Demikian pula ketika sholat telah selesai dikerjakan dan ia masih berada di tempat sholatnya, niscaya akan dinilai sedang mengerjakan sholat, selama dia tidak berhadats dan tidak menyakiti orang lain. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لاَ يَزَالُ الْعَبْدُ فِيْ صَلاَةٍ مَا كَانَ فِي مُصَلاَّهُ
يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ وَتَقُوْلُ الْمَلاَئِكَةُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ،
اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، حَتَّى يَنْصَرِفَ أَوْ يُحْدِثَ

“Seorang hamba (dinilai) berada dalam keadaan sholat selama dia masih berada di tempat sholatnya untuk menunggu ditegakkannya sholat. Para malaikat mendo’akannya dengan mengucapkan: “Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, rahmatilah dia…” sampai dia selesai atau berhadats.” (Muslim, no. 1061).
Sungguh beruntunglah orang yang datang ke masjid sebelum dikumandangkan adzan. Selama dia menunggu ditegakkannya sholat berjama’ah, maka ia akan dicatat sebagai orang yang sedang mengerjakan sholat. Keutamaan ini tidak akan didapatkan oleh kita yang biasa masbuk. Semoga Allah memudahkan kita untuk mendatangi masjid sebelum sholat ditegakkan sehingga kita bisa mendapatkan keutamaan yang besar ini.
Dalam redaksi yang lain disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّوْنَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ
فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلَّى فِيْهِ، يَقُوْلُوْنَ: اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ،
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ، مَا لَمْ يُؤْذِ فِيْهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيْهِ

“Dan para malaikat akan mendo’akan salah seorang di antara kalian selama berada di tempat sholatnya. Para malaikat itu berdo’a dengan mengucapkan: “Ya Allah, sayangilah dia. Ya Allah, berilah ampunan kepadanya. Ya Allah, terimalah taubatnya…” selama dia tidak menggangu (orang lain) dan tidak berhadats.” (Muslim, 649)
Keutamaan yang disampaikan dalam hadits ini berlaku umum untuk seluruh sholat fardhu yang dikerjakan secara berjama’ah. Dan tentu saja keutamaan ini juga terdapat dalam sholat Shubuh berjama’ah.

Keutamaan Keenam
Orang yang mengerjakan sholat Shubuh mendapat jaminan masuk Surga dan terhindar dari api Neraka.
Diriwayatkan dari ‘Umaroh bin Ruaibah radhiyallahu ‘anhu, dia bercerita, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

لَنْ يَلِجَ النَّارَ أَحَدٌ صَلَّى قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوْبِهَا

“Tidaklah akan masuk Neraka seseorang yang mengerjakan sholat sebelum terbitnya matahari (yaitu sholat Shubuh) dan sebelum tenggelamnya matahari (yaitu sholat ‘Ashar).” (Muslim, no. 634).
Abu Bakar bin Imarah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang mengerjakan sholat bardain (pada dua waktu yang dingin), niscaya akan masuk Surga.” (al-Bukhari, no. 574 dan Muslim, no. 635)
Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud adalah sholat Shubuh dan sholat ‘Ashar.” (Al-Mufhim limaa Asykala min Talkhiishi Kitaab Muslim, karya al-Qurthubi, II/262)
‘Azhim Abadi rahimahullah, penulis kitab ‘Aunul Ma’bud menjelaskan, “Maksudnya adalah melaksanakan sholat Shubuh dan sholat ‘Ashar secara rutin. Dikhususkan dua sholat ini karena sholat Shubuh adalah waktu (paling nikmat) untuk tidur, sedangkan sholat ‘Ashar adalah waktu yang sibuk dengan aktivitas perdagangan. Barangsiapa yang menjaga dua sholat ini, tentu ia akan lebih menjaga sholat fardhu lainnya karena sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Disamping itu, kedua waktu tersebut adalah waktu yang dipersaksikan oleh para malaikat malam dan siang. Pada waktu itu amalan hamba diangkat dan sangat mungkin di saat itu dosa-dosa akan diampuni karena dua sholat yang dikerjakannya, dan akhirnya dia pun bisa masuk Surga.” (‘Aunul Ma’bud, 2/68)

Keutamaan Ketujuh
Seorang muslim yang melangkahkan kakinya menuju masjid untuk menghadiri sholat Shubuh berjama’ah, akan dicatat baginya satu kebaikan untuk setiap langkah kaki yang dia ayunkan. Bahkan untuk tiap dua langkah yang ia ayunkan, satu langkah akan menghapuskan kesalahannya dan yang lain dapat meninggikan derajatnya.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صَلاَةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلاَتِهِ
فِي بَيْتِهِ وَفِي سُوْقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ ضِعْفًا،
وَذَلِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوْءَ
ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ – لاَ يُخْرِجُهُ
إِلاَّ الصَّلاَةُ – لَمْ يَخْطُ خُطْوَةً إِلاَّ رُفِعَتْ لَهُ بِهَا
دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيْئَةٌ

“Sholatnya seseorang yang dilakukan secara berjamaah (di masjid) itu pahalanya 25 kali lipat dibandingkan dengan sholatnya di rumah atau di kedainya. Yang demikian itu karena ia berwudhu dan membaguskan wudhunya, lalu keluar rumah menuju masjid, dan tidak ada yang membuatnya keluar rumah melainkan sholat, maka tidaklah ia melangkahkan (kakinya) satu langkah, melainkan (dari tiap-tiap langkah tersebut) akan diangkat baginya satu derajat dan dihapus darinya satu kesalahannya.” (al-Bukhari, no.647).
‘Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan:

وَمَا مِنْ رَجُلٍ يَتَطَهَّرُ فَيُحْسِنُ الطُّهُوْرَ
ثُمَّ يَعْمِدُ إِلَى مَسْجِدٍ مِنْ هَذِهِ الْمَسَاجِدِ
إِلاَّ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ يَخْطُوْهَا حَسَنَةً،
وَيَرْفَعُهُ بِهَا دَرَجَةً، وَيَحُطُّ عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةً

“Dan tidaklah seseorang bersuci lalu dia membaguskannya dengan sebaik-baiknya, kemudian dia berangkat menuju ke salah satu masjid yang ada, melainkan Allah menetapkan baginya kebaikan untuk setiap langkah yang dia ayunkan. Dengannya pula, Allah akan meninggikan satu derajat dan menghapuskan darinya satu keburukan.” (Syarhun Nawawi ‘alaa Shahiih Muslim, V/162).
Keutamaan yang disampaikan dalam hadits ini berlaku umum untuk seluruh sholat fardhu yang dikerjakan secara berjama’ah, baik untuk sholat Shbuh maupun sholat fardhu yang lainnya.
Jika seorang muslim memiliki dosa, maka satu langkah kakinya menuju masjid akan menghapuskan dosanya dan langkah yang lain mengangkat derajatnya. Namun jika dia tidak memiliki dosa, wallahu Ta’ala a’lam, maka seluruh langkah kakinya akan mengangkat derajatnya. (Al-Mufhim Limaa Asykala min Talkhiisi Kitaab Muslim, karya al-Qurthubi, II/290)

Keutamaan Kedelapan
Menghadiri sholat Shubuh berjama’ah merupakan keamanan dari sifat nifaq (kemunafikan).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إَنَّ أَثْقَلَ الصَّلاَةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ:
صَلاَةُ الْعِشَاءِ وَصَلاَةُ الْفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِيْهَا َلأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sesungguhnya sholat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah sholat ‘Isya dan sholat Shubuh. Seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat pada kedua sholat tersebut, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak.” (al-Bukhari, no. 657 dan Muslim, no. 1514)
Ibnu Hajar al-Asqolani rahimahullah mengatakan, “Sholat ‘Isya dan sholat Shubuh merupakan sholat yang paling berat bagi orang-orang munafik dibandingkan dengan sholat-sholat yang lain karena begitu kuatnya dorongan untuk meninggalkannya. Sholat ‘Isya adalah waktu yang nyantai dan istirahat, sedangkan sholat Shubuh adalah waktu yang paling nikmat untuk tidur.”
Sebenarnya, semua sholat itu berat bagi orang-orang munafik, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَلاَ يَأْتُوْنَ الصَّلاَةَ إِلاَّ وَهُمْ كُسَالَى
وَلاَ يُنْفِقُوْنَ إِلاَّ وَهُمْ كَارِهُوْنَ (54)

“Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik itu) mengerjakan sholat melainkan dengan begitu malasnya. Dan tidak pula mereka menafkahkan (harta mereka) melainkan dengan rasa enggan.” (QS. Al-Taubah: 54)
Dalam ayat yang lainnya, Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا قَامُوْا إِلَى الصَّلاَةِ قَامُوْا كُسَالَى
يُرَاءُوْنَ النَّاسَ وَلاَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ إِلاَّ قَلِيْلاً (142)

“Dan apabila mereka (orang-orang munafik itu) berdiri untuk sholat, mereka berdiri dengan begitu malasnya. Mereka bermaksud riya’ (dengan sholatnya) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka berdzikir kepada Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisaa’: 142)
Demikianlah gambaran orang-orang munafik dalam melaksanakan amal ibadah yang paling mulia lagi paling utama, yakni ibadah sholat. Jika mereka mengerjakan sholat, mereka lakukan dengan begitu malasnya, kosong dari khusyu’ dan jauh dari keikhlasan. Sebab mereka sholat tidak disertai niat, tidak ada rasa takut kepada Allah Ta’ala, dan mereka tidak memahami makna sholatnya. Mereka melakukan sholat hanya untuk melindungi diri dan menyembunyikan aib-aibnya. Oleh karena itu, di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka banyak meninggalkan sholat ‘Isya dan sholat Shubuh berjama’ah, karena ketidak-hadirian mereka di masjid ketika itu tidak terlihat oleh manusia.
Kaum muslimin rahimakumullah, di masa Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, masjid tidak ada lampu penerangan seperti di masjid-masjid kita saat ini. Bahkan tanpa penerangan sama sekali. Coba anda bayangkan bagaimana kondisi kita saat berada di masjid untuk melaksanakan sholat ‘Isya berjama’ah, namun tiba-tiba di kampung kita lampunya padam semua. Akankah kita dapat mengenali orang-orang disekitar kita? Tentu saja tidak. Maka demikianlah kondisi masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di masa itu. Orang-orang munafik tidak menghadiri sholat ‘Isya dan sholat Shubuh berjama’ah karena ketidak-hadiran mereka tidak terlihat oleh pandangan manusia.
Melaksanakan sholat berjama’ah benar-benar begitu berat bagi orang-orang munafik disebabkan tidak adanya kekhusyu’an pada diri mereka, serta tidak adanya rasa cinta kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya sholat berjama’ah akan terasa ringan bagi orang-orang yang khusyu dan benar-benar mencintai Allah Ta’ala, karena Allah Ta’ala berfirman:

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ
وَإِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِيْنَ (45)
الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ أَنَّهُمْ مُلاَقُوْ رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ (46)

“Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan bertemu dengan Rabbnya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 45 – 46).

Keutamaan Kesembilan
Orang yang sholat Shubuh berjama’ah, berada dalam perlindungan Allah Ta’ala
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللهِ

“Barangsiapa sholat Shubuh, maka ia berada dalam perlindungan Allah.” (Muslim, no.  105o)

No comments:

Post a Comment