Tuesday, May 22, 2012

Jerman Selamatkan Zona Euro dari Resesi

Jerman dipandang berhasil mencegah zona euro kembali terperosok ke dalam jurang resesi dengan menempatkannya di status stagnan dalam tiga bulan pertama 2012. Namun, upaya itu tidak diimbangi dengan ekonomi Prancis, yang berjalan stagnan, dan negara-negara di Eropa Selatan yang masih mengalami pertumbuhan ekonomi negatif.

Demikian data dari Eurostat dan kajian sejumlah ekonom Eropa yang dihimpun kantor berita Reuters. Bagi mereka, performa ekonomi kelompok negara pengguna euro terselamatkan oleh menguatnya kinerja ekspor Jerman, salah satu ekonomi terbesar di Eropa. Tingkat produk domestik bruto (GDP) Jerman pada triwulan pertama 2012 naik 0,5 persen, melebihi perkiraan para pengamat.

Performa Jerman ini mempengaruhi zona euro secara keseluruhan. Pertumbuhannya 0 persen, namun ini masih lebih baik dari perkiraan kalangan ekonom, yang sempat memproyeksikan adanya kontraksi sebesar 0,2 persen.
Pertumbuhan ekonomi zona euro ini masih lebih baik dari triwulan keempat 2011, yang turun 0,3 persen. Suatu negara atau kawasan menderita resesi bila ekonominya mengalami kontraksi dalam dua triwulan berturut-turut. 

Namun data terakhir itu belum cukup menjadi tanda bahwa ekonomi zona euro bisa segera bangkit. "Jerman tengah memimpin zona euro, namun ini tidak berarti kita akan menyaksikan kebangkitan ekonomi yang kuat. Program penghematan masih berlanjut dan negara-negara Eropa selatan masih berjuang mengatasi krisis," kata Mads Koefoed, ekonom senior Saxo Bank. "Kami masih melihat stagnasi hingga pertumbuhan yang sangat lambat hingga tahun depan," lanjut Koefed.

Sebagian besar dari 17 negara pengguna euro tengah menerapkan program penghematan yang sangat ketat, berupa pemangkasan anggaran belanja dan menaikkan pajak, demi memperkecil defisit anggaran dan membayar utang. Namun, seperti yang terjadi di Yunani dan Prancis, program ini telah menumbangkan rezim yang berkuasa karena kian menambah beban sosial bagi rakyat.

Yunani masih berjuang membentuk pemerintahan baru, bahkan bila perlu terpaksa menggelar pemilu baru, setelah belum ada kompromi mengenai masa depan program penghematan. Presiden baru Prancis, Francois Hollande, bertekad akan mengganti program penghematan dengan kebijakan yang pro-pertumbuhan walau harus menambah beban anggaran negara dan menaikkan pajak bagi kaum kaya dan korporat kelas kakap.

Kebijakan baru Prancis itu membuat gusar Jerman, karena bisa berpengaruh pada kebijakan seluruh Uni Eropa. Sebagai dua negara paling berpengaruh di Uni Eropa, Jerman sudah mengadakan kesepakatan dengan presiden Prancis terdahulu, Nicolas Sarkozy, bahwa mereka harus menggalakkan program penghematan dalam menghadapi krisis keuangan zona euro.

"Kini ada perbedaan yang makin melebar di zona euro, terutama kontraksi yang tajam di negara-negara lapis kedua yang harus menerapkan reformasi struktural, sedangkan Jerman berada di luarnya," kata Joost Beaumont, ekonom dari ABN Amro di Amsterdam.
Jerman dipandang berhasil mencegah zona euro kembali terperosok ke dalam jurang resesi dengan menempatkannya di status stagnan dalam tiga bulan pertama 2012. Namun, upaya itu tidak diimbangi dengan ekonomi Prancis, yang berjalan stagnan, dan negara-negara di Eropa Selatan yang masih mengalami pertumbuhan ekonomi negatif.

Demikian data dari Eurostat dan kajian sejumlah ekonom Eropa yang dihimpun kantor berita Reuters. Bagi mereka, performa ekonomi kelompok negara pengguna euro terselamatkan oleh menguatnya kinerja ekspor Jerman, salah satu ekonomi terbesar di Eropa. Tingkat produk domestik bruto (GDP) Jerman pada triwulan pertama 2012 naik 0,5 persen, melebihi perkiraan para pengamat.

Performa Jerman ini mempengaruhi zona euro secara keseluruhan. Pertumbuhannya 0 persen, namun ini masih lebih baik dari perkiraan kalangan ekonom, yang sempat memproyeksikan adanya kontraksi sebesar 0,2 persen.
Pertumbuhan ekonomi zona euro ini masih lebih baik dari triwulan keempat 2011, yang turun 0,3 persen. Suatu negara atau kawasan menderita resesi bila ekonominya mengalami kontraksi dalam dua triwulan berturut-turut. 

Namun data terakhir itu belum cukup menjadi tanda bahwa ekonomi zona euro bisa segera bangkit. "Jerman tengah memimpin zona euro, namun ini tidak berarti kita akan menyaksikan kebangkitan ekonomi yang kuat. Program penghematan masih berlanjut dan negara-negara Eropa selatan masih berjuang mengatasi krisis," kata Mads Koefoed, ekonom senior Saxo Bank. "Kami masih melihat stagnasi hingga pertumbuhan yang sangat lambat hingga tahun depan," lanjut Koefed.

Sebagian besar dari 17 negara pengguna euro tengah menerapkan program penghematan yang sangat ketat, berupa pemangkasan anggaran belanja dan menaikkan pajak, demi memperkecil defisit anggaran dan membayar utang. Namun, seperti yang terjadi di Yunani dan Prancis, program ini telah menumbangkan rezim yang berkuasa karena kian menambah beban sosial bagi rakyat.

Yunani masih berjuang membentuk pemerintahan baru, bahkan bila perlu terpaksa menggelar pemilu baru, setelah belum ada kompromi mengenai masa depan program penghematan. Presiden baru Prancis, Francois Hollande, bertekad akan mengganti program penghematan dengan kebijakan yang pro-pertumbuhan walau harus menambah beban anggaran negara dan menaikkan pajak bagi kaum kaya dan korporat kelas kakap.

Kebijakan baru Prancis itu membuat gusar Jerman, karena bisa berpengaruh pada kebijakan seluruh Uni Eropa. Sebagai dua negara paling berpengaruh di Uni Eropa, Jerman sudah mengadakan kesepakatan dengan presiden Prancis terdahulu, Nicolas Sarkozy, bahwa mereka harus menggalakkan program penghematan dalam menghadapi krisis keuangan zona euro.

"Kini ada perbedaan yang makin melebar di zona euro, terutama kontraksi yang tajam di negara-negara lapis kedua yang harus menerapkan reformasi struktural, sedangkan Jerman berada di luarnya," kata Joost Beaumont, ekonom dari ABN Amro di Amsterdam.

No comments:

Post a Comment